AD (728x90)

Recent

Contact Form

Name

Email *

Message *

Responsive Advertisement

Total Tayangan Laman

Label

Categories

Welcome To SoraBook

You can use this area to describe the Books and your blog. . This responsive template is ideal for posting many types of digital products such as e-books, audio CDs, DVDs, paintings, photographs or any form of digital art or products.

  • 2793 Pine St

    2793 Pine St

    Nulla facilisi. Cras blandit elit sit amet eros sodales, non accumsan neque mollis. Nullam tempor sapien tellus, sit amet posuere ante porta quis. Nunc semper leo diam, vitae imperdiet mauris suscipit et. Maecenas ut neque lectus. Duis et ipsum nec felis elementum pulvi...

  • 1100 Broderick St

    1100 Broderick St

    Nulla facilisi. Phasellus ac enim elit. Cras at lobortis dui. Nunc consequat erat lacus, a volutpat nisi sodales vitae. Phasellus pharetra at nulla in egestas. Vestibulum sit amet tortor sit amet diam placerat tincidunt sit amet eget lorem. Phasellus ...

  • 868 Turk St

    868 Turk St

    Nulla facilisi. Phasellus ac enim elit. Cras at lobortis dui. Nunc consequat erat lacus, a volutpat nisi sodales vitae. Phasellus pharetra at nulla in egestas. Vestibulum sit amet tortor sit amet diam placerat tincidunt sit amet eget lorem. Phasellus posuere posuere fel...

  • 420 Fell St

    420 Fell St

    Sed at vehicula magna, sed vulputate ipsum. Maecenas fringilla, leo et auctor consequat, lacus nulla iaculis eros, at ultrices erat libero quis ante. Praesent in neque est. Cras quis ultricies nisi, vitae laoreet nisi. Nunc a orci at velit sodales mollis ac ac ipsum. Na...

Showing posts with label SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH. Show all posts

Tuesday, December 24, 2019

Pengaruh Hindu-Budha dalam Seni Bangunan di Indonesia


 

Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddhadalam bidang arsitektur atau seni bangunan dapat kita lihat dengan jelas pada candi-candi.Ada beberapa perbedaan fungsi antara candi dalam agamaHindu dan candi dalam agama Buddha. Dalama gama Hindu, candi difungsikan sebagai makam.Adapun dalam agama Buddha, candi berfungsi sebagai tempat pemujaan atau peribadatan.


Meski difungsikan sebagai makam, namun tidak berarti bahwa mayat atau abu jenazah
dikuburkan dalam candi. Benda yang dikuburkanatau dicandikan adalah macam-macam benda yang disebut pripih. Pripih ini dianggap sebagai lambang zat jasmaniah yang rohnya sudah bersatu dengan dewa penitisnya. Pripih ini diletakkan dalam peti batu di dasar bangunan, kemudian di atasnya dibuatkan patung dewa sebagai perwujudan sang raja.


Arca perwujudan raja itu umumnya adalah Syiwa ataulambang Syiwa, yaitu lingga. Pada candi Buddha, tidak terdapat pripih dan arca perwujudanraja. Abu jenazah raja ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.Bangunan candi terdiri atas tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap.


a. Kaki candi berbentuk persegi (bujur sangkar). Di tengah-tengah kaki candi inilah
ditanam pripih.


b. Tubuh candi terdiri atas sebuah bilik yang berisi arca perwujudan. Dinding luar sisi bilik
diberi relung (ceruk) yang berisi arca. Dinding relung sisi selatan berisi arca Guru, relung utara berisi arca Durga, dan relung belakang berisi arca Ganesha. Relung-relung untuk candi yang besar biasanya diubah.


c. Atap candi terdiri atas tiga tingkat. Bagian atasnya lebih kecil dan pada puncaknya terdapat lingga atau stupa. Bagian dalam atap (puncak bilik) ada sebuah rongga kecil yang dasarnya berupa batu segi empat dengan gambar teratai merah, melambangkan takhta dewa. Pada upacara pemujaan, jasad dari pripih dinaikkan rohnya dari rongga atau diturunkan ke dalam arca perwujudan. Hiduplah arca itu menjadi perwujudan almarhum sebagai dewa.


Bangunan candi di Indonesia yang bercorak Hindu, antara lain, candi Prambanan,candi Sambisari, candi Ratu Boko, candi Gedongsongo, candi Sukuh, candi Dieng,candi Jago, candi Singasari, candi Kidal, candi Panataran, candi Surawana, dan gapura Bajang Ratu. Bangunan candi yang bercorak Buddha, antara lain, candi Borobudur, candi Mendut, candi Pawon, candi Kalasan, candi Sewu, candi Sari, dan candi Muara Takus.


Beberapa peninggalan bangunan lain yang menyerupai candi sebagai berikut.
a. Patirtan atau pemandian, misalnya, patirtan di Jalatunda dan Belahan (lereng Gunung
Penanggungan), di candi Tikus (Trowulan), dan di Gona Gajah (Gianyar, Bali).


b. Candi Padas di Gunung Kawi, Tampaksiring. Di tempat ini terdapat sepuluh candi yang
dipahatkan seperti relief pada tebing-tebing di Pakerisan.


c. Gapura yang berbentuk candi dan memiliki pintu keluar masuk. Contoh candi semacam
ini adalah candi Plumbangan, candi Bajang Ratu, dan candi Jedong.


d. Jenis gapura lainnya yang berbentuk seperti candi yang dibelah dua untuk jalan keluar
masuk. Contoh candi semacam ini adalah candi Bentar dan candi Wringin Lawang


Hindu-Buddha di indonesia terhadap seni rupa

 Seni rupa Indonesia banyak di pengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Buddha dari India adalah seni pahat atau ukur danseni patung. Seni pahat atau ukir umumnya berupa hiasan hiasan dinding yang di ukir di tembok tembok candi yang menceritakan kehidupan di gunung mahameru.Gunung mahameru merupakan gunung tempat tinggal para dewa seperti gunung olympus di yunani yang merupakan tempat tinggal dewa zeus dan putranya hercules.

Hiasan yang terdapatpada ambang pintu atau relung adalah kepala kala yangdisebut Banaspati (raja hutan).Jika kalian ingin melihat contohnya secara utuh maka kalian bisa melihat gunungan pada wayang kulit. diJawa Tengah selalu dirangkai dengan makara, yaitu sejenis hewan melata mirip buaya yang menghiasi bagian bawah kanan kiri pintu atau relung.
Pola hiasan lainnya berupa daun-daunan yang dirangkai dengan sulur-sulur melingkar menjadi sulur gelung. Pola ini menghiasi bidang naik horizontal maupun vertikal. Ada juga bentuk bentuk hiasan berupa bunga teratai biru (utpala), merah (padam), dan putih (kumala).
Pola-pola teratai ini tidakdibedakan berdasarkan warna, melainkan detail bentuknya yang berbeda-beda. Khususnyapada dinding candi di Jawa Tengah, terdapat hiasan pohon kalpataru (semacam beringin)yang diapit oleh dua ekor hewan atau sepasang kenariBeberapa candi memiliki relief yang melukiskan suatu cerita.
Cerita tersebut diambil dari kitab kesusastraan ataupun keagamaan. Gaya relief tiap-tiap daerah memiliki keunikan.Relief di Jawa Timur bergaya mayang dengan objek-objeknya berbentuk gepeng (duadimensi). Adapun relief di Jawa Tengah bergaya naturalis dengan lekukan-lekukan yangdalam sehingga memberi kesan tiga dimensi.
Pada masa Kerajaan Majapahit, relief di JawaTimur meniru gaya Jawa Tengah dengan memberikan latar belakang pemandangansehingga tercipta kesan tiga dimensi.Relief-relief yang penting sebagai berikut.
Relief candi Borobudur menceritakan Kormanibhangga,menggambarkan perbuatan manusiaserta hukum-hukumnya sesuai dengan Gandawyuha (Sudhana mencari ilmu). Relief candi Roro Jonggrang menceritakan kisahRamayana dan Kresnayana.Seni patung yang berkembang umumnya berupapatung atau arca raja pada sebuahcandi.Raja yang sudah meninggal dimuliakan dalam wujud arca dewa.
Contoh seni patung hasil kebudayaan Hindu-Buddhakini dapat kita saksikan di candi Prambanan adalah Roro Jonggrang dan di Museum Mojokerto (Jawa Timur). Salah satu koleksi museum tersebut yang terindah adalah patung Airlangga (perwujudan Wisnu) dan patung Ken Dedes.


Monday, July 22, 2019

Historiografi Romawi


Periode historiografi Romawi tidaklah jauh berbeda dengan periode Yunani. Para sejarawan memiliki orientasi terhadap kesusastraan. Lebih banyak yang menceritakan sejarahnya hanya sebatas pengalaman, perasaan, mitos, legenda, ketimbang peristiwa sejarah sesungguhnya yang lebih besar. Mungkin karena pada dua zaman ini para sejarawan adalah sebagai pegawai pemerintahan, guru, pedagang,dsb. Oleh karena itu, mereka menceritakan sejarah (historiografi lisan) hanya sebatas ruang lingkup retoris.
Ada kebisaaan para penulis sejarah zaman Romawi, bahwa publikasi sejarah harus didahului atau diawali dengan pembacaan naskah secara terbuka untuk umum. Demikian juga terjadi pada zaman Herodotus, dan masih tetap terjadi 8 abad kemudian pada sejarawan Ammianus Maecellinus.
Historiografi pada zaman Romawi adalah sejalan dengan kerajaan Romawi itu sendiri. Oleh karena itu, histoiografi Romawi lebih banyak menghasilkan karya-karya sejarah yang bersifat Rome-Oriented.
Berbeda dengan generasi pertama para sejarawan Yunani, yang tertarik pada hal yang bersifat cosmopolitan atau kekota-kotaan, sejarawan Romawi bisaanya hanya mengenal 1 kajian, yaitu Roma. Namun harus diingat, jika dibandingkan dengan Yunani yang secara politik terbagi menjadi wilayah-wilayah (polis) yang kecil, Romawi sejak perang Punisia telah berkembang meluas dan relatif mendunia.
Dalam ikhtisar dari sejarah Romawi yang berawal dari “absolute” yaitu dengan pendirian kota Roma, tetapi juga dengan perhatian yang besar untuk masa Romawi yang terbaru, bisa ditemukan bentuk-bentuk annalistic yang luas,  sedangkan  bentuk kronik relatif jarang ditemukan. Ikhtisar itu bisaanya berakhir pada jamannya sendiri (si penulis). Sejarah umum yang universal yang tidak hanya dalam kerangka sejarah Romawi hanya  bisa ditemukan pada karya Trogus. Untuk masa-masa yang terbaru Romawi, banyak ditemukan studi monografi, misalnya memoires (tulisan peringatan) dan historien (cerita yang lebih detail mengenai kejadian-kejadian masa kini) atau  kadang disebut dengan istilah annalen.

Historiografi Yunani


Periode Yunani dalam aspek historiografi berawal dari tatanan pemerintahan yang ada pada saat itu. Para sejarawan Yunani pada umumnya berasal dari lingkungan orang berada atau yang secara material berasal dari kalangan masyarakat yang posisi ekonominya baik. Mereka nampaknya telah menjalani masa kehidupan sebagai pengarang, atau bahkan sebagai ilmuwan.
Akan tetapi kebanyakan dari mereka  adalah para politikus, pegawai negeri, militer, dokter (tabib) atau guru, dan  pada waktu yang sama atau sesudahnya juga masih tetap menjalankan pekerjaan penulisan sejarah.
Dalam ruang lingkup zaman Yunani, penulisan sejarah hanya sebatas pada cerita mitos dan legenda belaka. Unsur objektivitas dalam sejarah sebagai sebuah peristiwa yang benar-benar nyata terjadi belum mengalami internalisasi. Orientasi mythe lebih dominan ketimbang logika realitas.
Dalam mengkisahkan sejarah masa lampau yang jauh ke belakang, para sejarawan Yunani pada umumnya mendasarkan pada cerita rakyat  dan kisah-kisah yang disampaikan secara turun menurun atau atas karya para penulis terdahulu, yang sesungguhnya juga berasal dari  para penulis-penulis yang mendahuluinya. Namun demikian sejauh bisa diketahui, tradisi penulisan sejarah yang paling awal pada jaman Yunani kuno adalah apa yang disebut dengan istilah tradisi Homerus kemudian disusul dengan munculnya para Logograaf , dan yang terakhir zaman keemasan historiografi Yunani kuno.

Tradisi Penulisan Sejarah Masa Afrika Kuno


a.    Tradisi Mengenai Asal Mula
Setiap komuniti keluarga, klien, desa, kota, atau negara besar atau kecil, mempunyai tradisi yang tetap mengenal asal mulanya. Komuniti itu mungkin terpecah-pecah, bermigrasi, dan mengasimilasi tradisi-tradisi yang baru, atau ditaklikkan oleh yang lainnya dan diserap oleh imigran-imigran yang baru. Pada setiap tingkat dari tranformasi, tradisi berada dalam pengkristalan dan kembali untuk mengakomodasi kondisi-kondisi yang berubah, dan suatu tradisi yang baru mengenal asal mula diformulasikan oleh komuniti yang baru. Tradisi-tradisi ini menjadi dasar pokok dari pandangan komuniti mengenai sejarah. Prosese yang sesungguhnya dari pembuatan tradisi dan akulturasi di dalam komuniti, dan dari penyampaian tradisi ke generasi-generasi yang berikutnya, mengembangkn suatu kesadaran sejarah yang menjadi tersebar luas di Afrika.
Tradisi-tradisi asal mula ini tidaklah mengusahakan suatu penjelasan secara sejarah di dalam pandangan modern Eropa mengenai teks-teks dan kronologi yang dapat dibuktikan. Mereka mengembangkan pengertian dan penghormatan terhadap pranata-pranata dan praktek-praktek dari komuniti. Mereka memberikan penjelasan mengenai dunia sebagaimana dilihat oleh komuniti asal mula dari tanah dan laut, manusia dan berbagai macam jenis makhluk yang lain, asal mula dari negara, dasar dari adanya hukum-hukum adat istiadat yang berbeda, hak komunitas atas tanah yang dimiliki, bagaimana dan mengapa dewa-dewa yang mereka puja berbeda dengan dewa-dewa yang dipuja oleh tetangganya, dan lain-lain.
Kronologi dan sebab-musabab yang tepat tidaklah begitu relevan. Sampai kepada batas-batas tertentu, sejarah dan mitos menjadi satu dan merupakan suatu bagian dari filsafat hidup. Dalam hal ini historiografi tradisional Afrika menyerupai historiografi Eropa sebelum revolusi ilmu pengetahuan memecah filsafat ke dalam berbagai bagian. Pembuatan dan penyampaian tradisi bukanlah pekerjaan ahli-ahli sejarah sebagaimana menurut pandngan modern, tetapi pekerjaan pendeta dan ahli-ahli agama, orang-orang tua, dan orang-orang bijaksana pada umumnya. Tradisi tidak hanya menjelaskan hubungan antara para nenek moyang dari komuniti-komuniti yang berbeda tetapi juga hubungan dengan komuniti yang dinyatakan dalam bentuk cerita, puisi suci, ritual agama, dan manifestasi-manifestasi cara hidup dalam masyarakat.
Pembuatan dan penyampaian tradisi adalah berlainan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Hal itu tergantung pada luas, sifat alamiah, kepercayaan, dan sumber-sumber penghasilan dari suatu komuniti tertentu. Dalam masyarakat-masyarakat yang terdiri atas berbagai segmen-segmen dimana peranan-peranan seringkali tidak dibeda-bedakan, adalah suatu bagian dari fungsi-fungsi kepala klien untuk memegang peranan politik dan agama yang khusus. Tetapi dalam negara-negara yang terorganisasi, khususnya negara-negara dengan monarkhi yang terpusat, misal: Benin, Ashanti, atau Dahomey, dimana implikasi-implikasi politik dan legal dari tradisi merupakan hal-hal yang penting sehari-hari, pembuatan dan penyampaian tradisi menjadi suatu spesialisasi yang terkontrol dan penuh aturan.

b.    Penyampaian dari mulut ke mulut
Cara yang paling umum dalam menyampaikan tradisi adalah melalui cerita-cerita, fabel-fabel, dan peribahasa-peribahasa yang diceritakan oleh orang-orang yang lebih tua kepada mereka yang lebih muda sebagai bagian dari pendidikan umum. Di dalam kesempatan bercerita itu, sesudah makan malam di dalam kelompok-kelompok keluarga atau selama pesta-pesta bulan purnama ketika orang-orang tidak tidur hingga larut malam. Tradisi-tradisi menceritakan asal mula adanya hubungan dari seluruh komuniti atau dari keluarga klien tertentu. Kejadian-kejadian yang lebih akhir, yang telah muncul di dalam sejarah dapat diingat, khususnya hal-hal yang terjadi dua atau tiga generasi yang terdahulu juga diceritakan.
Tradisi-tradisi disampaikan secara lebih formal bila ada pranata-pranata pendidikan yang terorganisasi, umpamanya yang berhubungan dengan ritual masa dewasa, inisiasi ke dalam tingkat-tingkat umur dan kelompok-kelompok rahasia, atau selama latihan atau pendidikan untuk menjadi pendeta atau ahli agama. Rite-rite inisiasi untuk seorang calon raja yang terpilih menduduki tahta kerajaan adalah amat menarik perhatian. Sebagai penerus dan wakil para nenek moyang, raja menjadi penjaga dari tradisi-tradisi komuniti. Salah satu dari fungsi-fungsi terpenting dari rite-rite mendahului pentahbisannya sebagai raja adalah menginisiasinya ke dalam rahasia-rahasia para nenek moyang dan kepercayaan tradisional rakyatnya. Raja yang baru seringkali mengumumkan gelarnya sendiri, hali ini dimaksud untuk mrnandai harapan-harapan dari masa pemerintahannya. Proses penyampaian dari mulut ke mulut tersebut meliputi:
1)   Genealogi-genealogi
Dalam genealogi dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yakni: nenek moyang pertama, keturunan yang terakhir, dan rentetan orang-orang antara 1 dan 2. Struktur genealogi itu divergen dari nenek moyang pertama ke keturunan kemudian.
2)   Kejadian-kejadian simbolik dari masa lampau yang didramatisasikan ke hadapan umum
3)   Gelar-gelar
4)   Nyanyian-nyanyian untuk pemujaan
Proses penyampaian tradisi tidak terlepas dari pembentukan tradisi. Tradisi dibuat oleh mereka yang menyampaikan tradisi, misalnya orang-orang yang lebih tua di desa dan di klien. Orang-orang tersebut kadang ditunjuk dari anggota-anggota suatu keluarga yang dianggap mampu melakukan. Cara penyampaian tradisi:
1)   Cara secara umum melalui cerita, fable, dan peribahasa yang diceritakan secara turun-temurun.
2)   Dalam acara yang formal seperti ritual masa dewasa, latihan menjadi pendeta atau ritual menjadi calon raja.

c.    Unsur historiografi tradisional Afrika adalah:
1)   Kepercayaan yang asasi akan adanya kelanjutan hidup. Misalnya: mitos Horus yaitu raja-raja yang sudah mati, tetap terus mempengaruhi perbuatan dari luapan sungai Nil.
2)   Penghormatan pada nenek moyang. Yaitu setiap komuniti didirikan oleh seorang nenek moyang atau sekelompok nenek moyang. Nenek moyang telah menetapkan dasar dari hak dan kewajiban hidup yang berlaku untuk segala zaman.
d.      Ciri-ciri tradisi mengenai asal mula, yaitu:
1)   Tidak mengusahakan suatu pejelasan secara sejarah dalam pandangan masyarakat modern.
2)   Mengembangkan perhatian dan penghormatan terhadap pranata-pranata dan praktek dari komuniti.
3)   Memberikan penjelasan mengenai dunia dan bersifat filsafat, kesusasteraan dan pendidikan.
4)   Kronologi dan penyebab terjadinya sesuatu tidak relevan.
5)   Sejarah dan mitos menjadi satu dan menjadi bagian dari filsafat hidup.

6)   Pembuatan dan penyampaian tradisi melalui ahli-ahli agama, orang-orang tua, dan orang-orang bijaksana.

Feature (Side)

© 2013 Sekolah Pagi. All rights resevered.Thetechbook Designed by Templateism