AD (728x90)

Recent

Contact Form

Name

Email *

Message *

Responsive Advertisement

Total Tayangan Laman

Label

Categories

Welcome To SoraBook

You can use this area to describe the Books and your blog. . This responsive template is ideal for posting many types of digital products such as e-books, audio CDs, DVDs, paintings, photographs or any form of digital art or products.

  • 2793 Pine St

    2793 Pine St

    Nulla facilisi. Cras blandit elit sit amet eros sodales, non accumsan neque mollis. Nullam tempor sapien tellus, sit amet posuere ante porta quis. Nunc semper leo diam, vitae imperdiet mauris suscipit et. Maecenas ut neque lectus. Duis et ipsum nec felis elementum pulvi...

  • 1100 Broderick St

    1100 Broderick St

    Nulla facilisi. Phasellus ac enim elit. Cras at lobortis dui. Nunc consequat erat lacus, a volutpat nisi sodales vitae. Phasellus pharetra at nulla in egestas. Vestibulum sit amet tortor sit amet diam placerat tincidunt sit amet eget lorem. Phasellus ...

  • 868 Turk St

    868 Turk St

    Nulla facilisi. Phasellus ac enim elit. Cras at lobortis dui. Nunc consequat erat lacus, a volutpat nisi sodales vitae. Phasellus pharetra at nulla in egestas. Vestibulum sit amet tortor sit amet diam placerat tincidunt sit amet eget lorem. Phasellus posuere posuere fel...

  • 420 Fell St

    420 Fell St

    Sed at vehicula magna, sed vulputate ipsum. Maecenas fringilla, leo et auctor consequat, lacus nulla iaculis eros, at ultrices erat libero quis ante. Praesent in neque est. Cras quis ultricies nisi, vitae laoreet nisi. Nunc a orci at velit sodales mollis ac ac ipsum. Na...

Showing posts with label Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Show all posts

Monday, July 22, 2019

Seni Tari Untuk Anak Usia Dini


Seni Tari
a.  Pengertian Tari
Tari adalah gerak tubuh manusia. Ciri khas gerak tari adalah gerak yang sudah diolah dari aspek tenaga, ruang dan waktu. Seni tari merupakan ungkapan ekspresi manusia yang dinyatakan melalui gerak-gerak tubuh yang indah serta mampu memberikan aktivitas fisik dan rasa keindahan yang tertuang melalui gerak.
Ada beberapa konsep tari menurut para ahli sebagai berikut :
1)   Seorang kritikus dari Amerika Serikat, yaitu John Martin dalam bukunya yang berjudul “The Modern Dance”, mengemukakan bahwa gerak adalah pengalaman fisik yang paling elementer dari kehidupan manusia. Landasan elemen dasar dari tari adalah gerak, gerak yang diterapkan dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan bentuk yang diungkapkan manusia agar dapat dinikmati dengan rasa.
2)   Susane K. Langer dalam bukunya yang berjudul “Problem of Art”, mengemukakan bahwa gerak-gerak ekspresif ialah gerak-gerak yang indah, yang dapat menggetarkan perasaan manusia. Sedang gerak indah adalah gerak yang destilir dan mengandung ritme tertentu. Kata indah identik dengan bagus, yang dapat memberikan kepuasan batin manusia.
3)   Konsep tari menurut Curt Sachs, bahwa tari adalah gerak yang ritmis.
4)   Kemudian konsep tari menurut Corrie Hartong dari Belanda dalam bukunya yang berjudul “Duskeenst”, mengemukakan bahwa tari adalah gerakan-gerakan yang diberi bentuk dan ritme dari badan di dalam ruang.
Seni tari merupakan salah satu bagian dari pendidikan seni yang terdapat dalam program pembelajaran. Pendidikan seni dengan pendekatan kompetensi sebagai salah suatu alternatif solusi dan antisipasi pada persaingan global yang kompetitif. Pendidikan berbasis kompetensi adalah pendidikan yang menitikberatkan pada penguasaan kemampuan atau kompetensi untuk mengerjakan atau melakukan sesuatu (ability to do something) (Masunah, 2003:5).
Tentu untuk bisa mengerjakan sesuatu yang dimaksud, diperlukan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan untuk mengerjakan sesuatu tersebut. Misalnya untuk bisa menari, diperlukan penguasaan kompetensi yang terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap terhadap tari, atau untuk bisa melukis, diperlukan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk melukis. Pendeknya, untuk dapat melakukan pekerjaanpekerjaan seni rupa, musik, tari, teater dan sastra, diperlukan kompetensi yang mencakup aspek-aspek kognitif, psikomotor dan afektif.
Pendidikan seni sebagai mata pelajaran di sekolah didasarkan pada: Pertama, pendidikan seni memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual berarti seni bertujuan mengembangkan kemampuan mengekspresikan diri dengan berbagai cara seperti melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan paduannya. Multidimensional berarti seni mengembangkan kompetensi kemampuan dasar siswa yang mencakup persepsi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi dan produktivitas dalam menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri, dengan memadukan unsur logika, etika dan estetika, dan multikultural berarti seni bertujuan menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya yang majemuk (Depdiknas, 2001: 7).
Kompetensi yang diharapkan dari pendidikan seni anak usia dini adalah:
1)   Mampu memadukan unsur etika, logika dan estetika, meliputi: pengetahuan, pemahaman, persepsi, analisis, evaluasi, apresiasi, dan berproduksi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan peran;
2)   Memiliki kepekaan inderawi, perasaan estetis dan artistik melalui pengalaman bereksplorasi, berekspresi dan berkreasi secara lintas bidang dalam mendukung kecerdasan emosional, intelektual, moral, spiritual dan adversitas sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak;
3)   Mampu berkreasi dalam bahasa rupa, bunyi, gerak dan peran dalam mengembangkan kemampuan perseptual, pemahaman, apresiasi, kreativitas, dalam berproduksi;
4)   Memiliki keterampilan dasar dan mampu berkreasi berdasarkan inspirasi yang bersumber pada alam dan lingkungan sekitar anak dalam mengolah medium seni;
5)   Mampu menghargai karya sendiri dan karya orang lain serta keragaman seni budaya setempat dan nusantara;
6)   Mampu mempergelarkan, menyajikan karya seni dan atau merancang, memamerkannya di kelas dan atau di lingkungan sekolah (Depdiknas, 2001: 8).
Tujuan pendidikan seni berbasis kompetensi adalah salah satu alternatif untuk: (1) mendekatkan pendidikan seni dan dunia kerja seni; (2) menjamin adanya common basis pendidikan seni; (3) memfokuskan pada hasil dan proses sekaligus; (4) mengenalkan pembelajaran yang luwes; (5) mengakui pembelajaran sebelumnya; dan (6) menjamin adanya multiple entry and exit (Slamet, 2001: 4).
Dengan demikian pendidikan seni di sekolah yang mencakup seni rupa, seni musik, tari dan drama, dapat dijadikan sebagai dasar pendidikan dalam membentuk jiwa dan kepribadian (berakhlak karimah). Sebagaimana yang dinyatakan oleh Plato (dalam Rohidi, 2000:5), bahwa pendidikan seni dapat dijadikan dasar pendidikan karena untuk membentuk suatu kepribadian yang baik dilakukan melalui pendidikan seni.
Selain bernyanyi dan bereksplorasi dengan alat musik, kegiatan lain dalam musik adalah gerak dan lagu serta menari. Menari sebagai salah satu bentuk kegiatan dari seni musik yang beragam jenisnya, sehingga tidak semua kegiatan tari appropriate (berkesesuaian) bagi anak. Menari lebih spesifik dikatakan oleh Stinson sebagai gerakan yang beraturan, signifikan dan dipengaruhi oleh penjiwaan.Tari yang kreatif adalah gerakan yang ditampilkan secara menarik dengan menyesuaikan alunan lagu atau musik. Terlepas dari itu, gerakan tari untuk anak sebaiknya yang mudah dan tidak terlalu bervariasi, menyenangkan bagi anak, dan dalam kondisi tertentu gerakan tari anak bersifat alami.
Gerakan tari pada anak usia dini umumnya bersifat pengulangan dari 5-6 gerakan, dengan ditambah variasi formasi yang sederhana. Hal penting yang perlu diperhatikan oleh guru ataupun orangtua adalah memperhatikan kondisi fisik dan psikologis anak saat ingin menari. Memaksakan atau menekan anak untuk menunjukkan suatu gerakan tari, terlebih harus sempurna, hanya akan membuat kondisi menjadi semakin buruk dan tidak mengembangkan kreativitas mereka.
b. Karakteristik Tari
1)    Karakteristik gerak anak TK
Gerak merupakan sarana ekspresi dan mengalihkan ketakutan, kesedihan, kemarahan, kenikmatan, dan sebagainya. Gerak juga merupakan ekspresi pembebasan dari belenggu ketidakberdayaan, simbolis khususnya pada anak-anak mereka mengekspresikan dirinya secara langsung dan efektif melalui gerakan. Gerak yang erat hubungannya dengan musik merupakan isyarat yang ekspresif dan membebaskan diri dari ketegangan melalui gerakan-gerakan ritmis sehingga dalam penanganan anak yang berperilaku agresif, media gerak ritmis dapat menyalurkan emosi-emosi negatif dengan cara yang lebih dapat diterima oleh lingkungannya (Mutiah, 2010:168-169) .
Karakteristik gerak pada anak TK umumnya mereka dapat melakukan dengan berbagai kegiatan-kegiatan pergerakan menirukan. Apabila seorang guru dapat menunjukkan kepada anak didik suatu action yang dapat diamati (observable), maka anak akan mulai membuat tiruan actiontersebut sampai pada tingkat otot-ototnya dan dituntut oleh dorongan kata hati untuk menirukannya.
Kemampuan anak-anak dalam masa pertumbuhan selalu bergerak. Sejalan dengan perkembangan fisik serta mental anak, kegiatan gerak yang dilakukan mereka sangat bervariasi dan atraktif, biasanya gerak yang mereka lakukan berkenaan dengan dunia permainan. Dalam bermain anak-anak melakukan gerak kreatif dengan mengungkapkan berbagai ekspresi melalui simbol gerak. Pengekspresian simbol gerak berhubungan dengan penggunaan tubuh, ikiran, dan jiwa (rasa) yang tergabung dalam ekspresi nonfungsional dan komunikasi diri.
Bahwa dalam perkembangan umumnya anak TK dapat melakukan kegiatan-kegiatan bergerak sebagai berikut :
a)    Menirukan, seperti yang telah penulis ungkapkan sebelumnya dalam upaya pengembangan kreativitas tari bahwa dalam bermain anak senang menirukan sesuatu yang dilihat. Anak dapat menirukan gerakan-gerakan yang dilihat baik dari televisi ataupun gerakan-gerakan yang secara langsung dilakukan oleh orang lain, berdasarkan tema maupun gerakan-gerakan binatang yang diamati.
b)   Manipulasi, dalam kegiatan ini anak-anak secara spontan menampilkan berbagai gerak-gerak dari obyek yang diamatinya. Namun dalam pengamatan dari obyek tersebut anak akan menampilkan sebuah gerakan yang hanya disukainya.
Menurut Kamtini dan Tanjung (2005:10) bahwa secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa karakteristik gerak fisik anak TK adalah :
1)        bersifat sederhana,
2)        bersifat maknawi dan bertema, artinya tiap gerak mengandung tema tertentu,
3)        gerak anak menirukan gerak keseharian orang tua dan juga orang-orang yang berada di sekitarnya,
4)        anak juga menirukan gerak-gerak binatang.
Seorang guru TK dalam menata sebuah tari-tarian bagi anak TK harus memperhatikan dua hal yaitu, harus memperhatikan bagian-bagian tubuh yang dapat dilatih dari karakteristik atau ciri-ciri gerak anak.
2) Karakteristik Tari Anak TK
Menurut Desfina (2005:25) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk dapat memberikan tari yang sesuai dengan karakteristik anak TK yaitu ada beberapa butir yang harus diketahui antara lain :
a)    Tema
Bahwa pada umumnya anak-anak selalu menyenangi apa yang pernah dia lihat. Dari apa yang dilihatnya secara tidak disadari atau disadari dengan spontan. Anak akan menirukan gerakan yang sesuai dengan apa yang pernah dilihatnya.
Dari gerak-gerak yang pernah dilihat dan diamati oleh anak maka dapat dijadikan suatu tema. Tema-tema yang pada umumnya disenangi oleh anak-anak TK diantaranya adalah tingkah laku binatang seperti : kucing, anjing, burung, kupu-kupu, bebek dan lain-lain.
b)   Bentuk Gerak
Bentuk gerak yang sesuai dengan karakteristik tari anak-anak, pada umumnya gerak-gerak yang dilakukannya tidaklah terlalu sulit dan sangat sederhana sekali. Mengingat pada dasarnya imajinasi anak TK tinggi dan mempunyai daya kreativitas yang tinggi pula. Dan bentuk-bentuk gerak yang biasa dilakukan adalah bentuk gerak-gerak yang lincah, cepat dan seakan menggambarkan kegembiraannya.
c)    Bentuk Iringan
Dilihat dari karakteristik anak yang senang bergerak dengan gembira, anak TK biasanya menyenangi musik iringan yang menggambarkan kesenangan dan kegembiraan. Terutama lagu-lagu anak yang mudah diingat, misalnya: lagu kelinciku, kebunku, kupu-kupuku dan lain-lain.
d)   Jenis Tari
Apabila suatu karya cipta gerak tari sudah tersusun dan menjadi satu kesatuan tari anak, maka dibentuklah menjadi satu bentuk tari dan sebuah jenis tari yang sesuai dengan karakteristik dan sifat anak TK yang memiliki sifat kegembiraan atau kesenangan, geraknya yang lincah dan sederhana, dan iringan musiknya pun mudah dipahami oleh anak.
c. Tujuan Tari
Keterampilan gerak tari bukanlah tujuan utama namun pengembangan berbagai aspek kreativitas pada diri siswa merupakan orientasi yang dilaksanakan dalam proses pembelajarannya. Tujuan utama dari tari adalah membantu menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan anak melalui tari untuk menemukan hubungan antara tubuhnya dengan seluruh eksistensinya.
Pendidikan seni tari memiliki peranan untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak. Seni tari pada lingkungan sekolah membantu anak untuk berekspresi secara bebas. Dengan kata lain menurut Rohendi (2000:33) “seni sebagai media dalam pendidikan untuk meningkatkan kreativitas anak”. Melalui pendidikan seni tari, potensi yang dimiliki siswa sejak lahir untuk bergerak secara bebas dapat dikembangkan secara optimal.
Tujuan dari pembelajaran dengan menggunakan tarian yang dilakukan secara bertahap adalah :
1)        Anak dapat memahami instruksi yang dapat diberikan.
2)        Anak dapat meniru gerakan sesuai dengan contoh yang diberikan.
3)        Anak dapat membentuk gerakan sesuai dengan irama musik.
4)        Anak dapat mengembangkan imajinasinya dengan variasi gerakannya.
5)        Anak dapat merangsang pancainderanya melalui sentuhan, pendengaran, penciuman, penglihatan, dan perasaannya.
6)        Anak dapat mengatur dirinya sendiri sesuai dengan alur cerita.
7)        Berinteraksi dan berpartisipasi di dalam kelompok
8)        Anak mampu mengordinasikan tubuh, ucapan, dan musik.
9)        Anak membuat kreasi gerakan sendiri yang sesuai dengan irama musik dan alur cerita.
10)    Anak tidak canggung untuk tampil menari dan menyanyi dihadapan publik.
Anak memahami nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita  (Mutiah, 2010:176-177).

Tuesday, January 31, 2017

Media Gambar


Ada beberapa konsep mengenai definisi media pengajaran. Menurut Gerlach (dalam Sanjaya, 2006:161) secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kodisi yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Menurut Sudjana (2007,2) manfaat media pengajaran dalam proses belajar antara lain :
a.     Pengajaran akan lebih menarik perhatian anak didik sehingga dapat      menumbuhnya motivasi belajar.
b.     Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih   dipahami oleh para anak didik, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran.
c.     Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga anak didik tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga.
d.     Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.
      Sedangkan menurut Usman (2008:32), media pendidikan mempunyai manfaat sebagai berikut: (a) meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir. Oleh karena itu, mengurangi verbalisme, (b) memperbesar perhatian siswa, (c) membuat pelajaran lebih menetap atau tidak mudah dilupakan, (d) memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan para anak didik, (e) menumbuhkan pemikiran yang teraturdan bersambung, (f) membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
      Gambar merupakan media untuk berkomunikasi dengan orang lain. Gambar berfungsi sebagai stimulasi munculnya ide, pikiran maupun gagasan baru. Gagasan ini selanjutnya mendorong anak untuk berbuat, mengikuti pola berpikir seperti gambar atau justru muncul ide baru dan menggugah rasa (Pamadhi, 2008:2.8).
      Dalam proses belajar mengajar gambar yang digunakan mampu membantu apa yang akan dijelaskas oleh guru, memliki kualitas yang baik, dalam arti, dalam arti memiliki tujuan yang relevan, jelas, mengadung kebenaran, autentik, aktual, lengkap, sederhana, menarik, dan memberikan sugesti terhadap kebenaran itu sendiri. Menurut Sadiman (2011, 31-33) ada enam syarat yang perlu dipenuhi oleh gambar/foto yang baik sehingga dapat dijadikan sebagai media pengajaran:
a.     Autentik. Gambar tersebut secara jujur melukiskan situasi seperti kalau    orang melihat benda sebenarnya.
b.     Sederhana. Komponen gambar hendaknya cukup jelas dan menunjukkan poin-poin pokok pembelajaran.
c.     Ukuran relatif. Gambar dapat memperbesar atau memperkecil obyek/benda sebenarnya.
d.     Gambar/foto sebaiknya mengandung gerak atau perbuatan.
e.     Gambar yang bagus belum tentu baik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Walaupun dari segi mutu kurang, gambar/foto karya siswa sering sekali lebih baik.
f.     Tidak semua gambar yang bagus adalah media yang baik. Gambar hendaknya bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
      Menurut Pamadhi (2008:2.9) manfaat gambar bagi anak adalah sebagai berikut: (a) alat untuk mengutarakan (berekspresi) isi hati, pendapat maupun gagasannya, (b) media bermain fantasi, imajinasi dan sekaligus sublimasi, (c) stimulasi bentuk ketika lupa, atau untuk menumbuhkan gagasan baru, (d) alat untuk menjelaskan bentuk serta situasi.
      Media pendidikan sangat berperan dalam perencanaan dan pelaksanaan secara sistematis. Media sendiri adalah orang, benda atau kejadian yang menciptakan suasana yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, ketrampilan, maupun sikap. Salah satu media yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah kartu gambar. Media kartu gambar adalah media yang berupa kertas tebal yang berbentuk persegi dengan disertai gambar baik berupa gambar orang, hewan tumbuhan dan lain sebagainya.

Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini


 Bahasa adalah segala bentuk komunikasi di mana pikiran dan perasaan seseorang disimbolisasikan agar dapat menyampaikan arti kepada orang lain. Oleh karena tiu, perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu bertutur kata. Perkembangan bahasa terbagi menjadi dua periode, yaitu, periode Prelinguistik dan periode Linguistik. Periode Linguistik inilah anak mulai mengucapkan kata-kata pertama.
Menurut Sumantri (2008:2.30-2.31) periode linguistic terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:
a. Fase satu kata atau Holofrase
    Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk  menyatakan pikiran   yang kompleks, baik berupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa perbedaan yang jelas. Pada umumnya kata pertama yang diucapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.
b. Fase lebih dari satu kata
    Fase dua kata muncul pada anak berusia sekitar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan untuk dirinya. Orang tua mulai melakukan Tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimat sederhana.
 c. Fase diferensiasi
    Periode terakhir dari masa balita yang berlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengungkapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja.
    Menurut Brewer dalam Suyanto (2005:73) perkembangan bahasa mengikuti suatu urutan yang dapat diramalkan secara umum sekalipun banyak variasinya diantara anak yang satu dengan anak yang lain, dengan tujuan mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi. Kebanyakan anak memulai perkembangan bahasanya dari menangis untuk mengekspresiakan responnya terhadap bermacam-macam stimuli. Anak mulai memerang (cooing), yaitu melafalkan bunyi yang tidak ada artinya secara berulang-ulang, seperti suara burung yang sedang berkicau. Anak pada umumnya belajar nama-nama benda sebelum kata-kata lain.
    Berikut adalah fungsi bahasa sebagai alat komunikasi menurut Depdiknas (2007:5), antara lain adalah:
a.     Keterampilan berbahasa, dapat ditunjukkan oleh anak dalam perilaku: menyapa, memperkenalkan diri, bertanya, mendeskripsikan, melaporkan kejadian, menyatakan suka/tidak, meminta ijin, bantuan, mengemukakan alas an, memerintah atau menolak sesuatu.
b.     Keterampilan mendengar, dapat ditujukan oleh anak dalam perilaku: mendengarkan perintah, mendengarkan pertanyaan, mendengarkan orang yang sedang bercerita dan mendengarkan orang yang sedang member petunjuk.
c.     Keterampilan berbicara, dapat ditujukan oleh anak dalam perilaku: mengembangkan keterampilan bertanya, menyiapkan kegiatan yang dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menggunakan berbagai kegiatan yang bervariasi.

d.     Keterampilan membaca, adalah kegiatan yang melibatkan unsur auditif (pendengaran) dan visual (pengamatan).

Seni Tari Tradisional


a. Pengertian Seni Tari Tradisional
Seni Tari Tradisional dapat diartikan sebagai : salah satu budaya yang sangat lama dan tidak peka oleh zaman yang hidup dan berkembang pada masyarakat tertentu sejak zaman dahulu sampai sekarang merupakan satu wujud ekspresi manusia terhadap lingkungan dan kehidupan. Nilai-nilai kehidupan yang ada dalam tradisi masyarakat dapat di tuangkan dalam keindahan tarian. (Soeryodiningrat, 1986 : 2).
Tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan (Haukins, 1990 : 2).
b. Tujuan dan Fungsi
Adapun tujuan dan fungsi dari seni tari adalah mengembangkan kelenturan tubuh anak dalam menggerakkan anggota tubuhnya dalam rangka latihan kelenturan otot, dan terjadinya koordinasi tangan dan kaki sebagai persiapan untuk menari (Campbell dan Dickinson, 2002 : 77-96). Sejalan dengan itu di dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) bidang pengembangan kemampuan dasar yaitu fisik dapat dilihat dari hasil belajar anak yaitu : dapat menggerakkan kelenturan tangan dan kakinya serta pinggang dan punggungnya untuk kelenturan otot tubuhnya.
c. Langkah-Langkah Latihan Menari Seni Tari Tradisional
Adapun langkah-langkah latihan seni tari tradisional dalam latihan menari yaitu: a. Menyiapkan media pembelajaran atau bahan ajar yang akan disampaikan atau dilatih. b. Mengatur pembagian kelompok. c. Memberikan materi atau contoh gerak untuk menari. d. Demonstrasi. e. Melaksanakan evaluasi. d. Kegiatan yang dilakukan anak saat belajar menari

1. Anak mengikuti langkah kaki yang dicontohkan.
2. Anak melentikkan jari.
3. Anak menggerakkan kaki ke depan dan ke samping.
4. Anak menggoyangkan pinggul.
5. Anak bergerak sesuai dengan gerak yang diberikan oleh guru secara keseluruhan.

B. Meningkatkan Kelenturan Tubuh Anak Melalui Latihan Menari Tari Tradisional
a. Pengertian Menari
Menari adalah suatu kegiatan menggerakkan badan dengan berirama yang diiringi dengan bunyi-bunyian atau musik (Enoch Atmadibrata, 1979 : 8). Kemampuan menari yang dimiliki oleh seorang dipengaruhi oleh bakat dan pengalaman, keterampilan menari diberikan kepada anak yang mempunyai bakat ataupun tidak yang penting mereka memiliki minat dan motivasi untuk menari. Dengan demikian menari bukanlah sekedar menggerakkan badan melainkan merupakan upaya untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran yang ada pada diri individu. Kegiatan menari di TK harus memperhatikan kesiapan dan kematangan anak, karena kegiatan tersebut dapat dilakukan jika perkembangan kelenturan tubuh anak telah matang dimana dapat terlihat dari kemampuan anak dalam menari.
Ada dua kemampuan yang diperlukan anak dalam menari yaitu kemampuan dalam menirukan gerak dan kemampuan anak dalam mengekspresikan gerak. Berdasarkan pengertian menari di atas dalam penelitian ini menari yang dimaksud adalah bergerak dengan irama dengan kelenturan tubuh yang maksimal dengan tingkatan usia anak sebagai subjek penelitian.
b. Tahapan Kemampuan Menari
Ada 2 tahapan dalam kemampuan menari (Soedarsono, 1978) sebagai berikut : 1. Olah tubuh dasar, yaitu tahapan untuk kelenturan otot tubuh anak, agar terbentuk otot yang elasfisitas, sehingga memudahkan anak bergerak dalam menari. 2. Pengenalan gerak tari, yaitu tahapan melatih gerak tari pada tahap ini anak belajar tentang berbakai bentuk gerak yang akan ditampilkan dalam tarian tersebut.
Keterampilan menari diberikan kepada anak yang mempunyai bakat ataupun tidak yang penting mereka memiliki minat dan motivasi untuk menari. Adapun tujuan pendidikan tari antara lain sebagai berikut : 1. Pendidikan di dalam mengajar keterampilan menari, guru pandai memilih gerakan yang sesuai dengan kemampuan anak. 2. Melatih perasaan, dengan menari diharapkan anak dapat menjiwai tarian tersebut, misalnya gerakan yang gembira ekspresi wajah akan terlihat ceria. 3. Melatih ingatan, untuk dapat membawakan suatu tarian anak perlu hapal gerakan-gerakannya, dengan menghafal suatu tarian daya ingat akan terlatih. 4. Mengembangkan potensi, bagi anak yang mempunyai bakat dalam seni tari, dengan mengikuti pelajaran-pelajaran menari secara kontinyu bakat yang dimiliki anak akan berkembang.
c. Tahapan Kegiatan Kelenturan Tubuh
1. Kegiatan Kelenturan Tubuh
Tujuan dari pengajaran menari adalah keterampilan yaitu mampu bergerak dengan keseimbangan untuk menjaga kekompakan dalam bentuk tarian. Langkah yang harus dilakukan pertama-tama anak harus dapat menari dengan kelenturan otot yang seluas-luasnya. Oleh karena itu, pengajaran menari pada tahap awal dapat difokuskan pada cara latihan melenturkan otot dengan benar. Penguasaan gerak merupakan hasil dari proses belajar yang dilakukan secara berkelanjutan, misalnya dalam bentuk latihan tari, proses belajar pada praktek tari memerlukan suatu latihan yang rutin sehingga dapat melatih kemampuan menyerap pelajaran dan menguasai materi, dalam hubungan itu Saadjaah Edja (1995 : 35) mengungkapkan “Learning is the process by which an activity originate or is change though training to produres” (Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan).
2. Jenis-jenis kesulitan menari

 beberapa jenis kesulitan yang dialami dalam latihan menari awal : a. Salah melangkahkan gerak kaki b. Gerakan terlalu sulit c. Tidak dapat menselaraskan gerak dengan musik d. Gerakan masih kaku, belum elastis e. Keseimbangan gerak tidak kompak f. Tidak memiliki kekuatan gerak g. Gerak terlalau cepat Para pakar menyarankan agar anak dapat diberi latihan untuk menari dengan cara diurutkan berdasarkan proses perkembangan kemampuan menari dengan melatih olah tubuh dan kelenturan otot tubuh. 

Pola Asuh Orang Tua

a. Pola Asuh Otoriter (parent oriented)
Ciri-cri dari pola asuh ini, menekankan segala aturan orang tua harus ditaati oleh anak. Anak harus menurut dan tidak boleh membantah terhadap apa yang diperintahkan oleh orang tua. Anak seolah adalah "robot" yang dikendalikan orang tua, sehingga menjadi kurang inisiatif, merasa takut tidak percaya diri, pencemas, rendah diri, minder dalam pergaulan, tetapi disisi lain anak bisa memberontak, nakal, atau melarikan diri dari kenyataan, misalnya dengan menggunakan narkoba. Selain itu, anak yang diasuh dengan pola asuh ini cenderung akan menjadi disiplin yakni mentaati peraturan, walaupun terkadang hanya untuk menyenangkan orang tua atau suatu bentuk kedisiplinan dan kepatuhan yang semu. Di belakang orang tua, bisa jadi anak akan menunjukkan perilaku yang berbeda.
b. Pola Asuh Permisif (children centered)
Sifat pola asuh ini, yakni segala aturan dan ketetapan keluarga di tangan anak. Orang tua menuruti segala kemauan anak. Anak cenderung bertindak semena-mena, tanpa pengawasan orang tua. Ia bebas melakukan apa saja yang diinginkan. Dari sisi negatif lain, anak kurang disiplin dengan aturan-aturan sosial yang berlaku. Bila anak mampu menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab , maka anak akan menjadi seorang yang mandiri, kreatif, inisiatif dan mampu mewujudkan aktualisasinya.
c. Pola Asuh Demokratis
Kedudukan antara orang tua dan anak sejajar. Anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab, artinya apa yang dilakukan oleh anak tetap harus dibawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral. Orang tua dan anak tidak dapat berbuat semena-mena. Anak diberi kepercayaan dan dilatih untuk mempertanggung jawabkan segala tindakannya. Akibat positif dari pola asuh ini, anak akan menjadi seorang individu yang mempercayai orang lain, bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya, tidak munafik, jujur. Namun akibat negatif, anak akan cenderung merongrong kewibawaan otoritas orang tua, kalau segala sesuatu harus dipertimbangkan anak dan orang tua. 

DAMPAK POLA ASUH TERHADAP ANAK





Setiap pola asuh yang diterapkan dalam keluarga oleh orangtua mempunyai dampak masing- masing pada psikologi perkembangan anak, baik pola asuh yang positif maupun yang negative. Oleh karena itu alangkah baiknya jika orangtua mengetahui pola asuh yang baik buat anaknya.
diantara banyaknya pola asuh menurut beberapa ahli, kami kan membahas dampak pola asuh menurut Marcolm Hardy dan Steve Heyes mengemukakan empat macam pola asuh yang dilakukan  orang tua dalam keluarga.

1.      Autokratis (otoriter)
Pola asuh otoriter cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Seperti anak harus mematuhi peraturan-peraturan orangtua dan tidak boleh membantah, orangtua cenderung mencari kesalahan-kesalahan anak dan kemudian menghukumnya, atau jika terdapat perbedaan pendapat antara orangtua dan anak maka anak dianggap pembangkang. seperti dilansir Onlymyhealth.
Dampak pengasuhan otoriter pada anak adalah sebagai berikut:
·         Harga diri
Kemungkinan besar yang terjadi pada anak adalah gagal mengakui individualitas mereka. Akhirnya anak-anak menderita rendah harga diri karena menganggap dirinya tidak berperan penting dan tidak cukup valid menentukan keberadaan mereka di tengah masyarakat.


·         Kepercayaan diri
Anak-anak dengan orangtua otoriter selalu mengambil keputusan sepihak tanpa kompromi dengan anak. Anak pun akan gagal mengakui keinginan karena naluri mereka selalu dikendalikan. Mereka juga tidak percaya akan kemampuan diri mengambil keputusan penting.
·         Kepatuhan
Karena cenderung dibatasi individualitasnya, anak-anak akan selalu mengikuti perintah orangtua tanpa keraguan. Mereka tidak berani bereksperimen dalam menangani situasi. Bahkan tidak mampu berhadapan dengan situasi stres dan tidak bisa mengekspresikan diri.
·         Menang sendiri
Orang tua otoriter selalu menetapkan aturan dan panduan agar anak mengikutinya tanpa mempertanyakan baik dan buruknya. Bila mereka gagal melakukan sesuatu biasanya dikenakan hukuman. Anak-anak pun terbiasa untuk harus unggul dalam kegiatan di luar sekolah atau di lingkungan masyarakat.
·         Kesepian
Sementara orangtua sibuk merumuskan pedoman, anak-anak mulai merasa kesepian dan menarik diri. Kemudian menjadi pendiam dan menutup diri. Banyak kasus anak menjadi depresi karena mereka tidak mendapatkan perhatian yang layak untuk didengar dan dilihat sebagai individu.[10]

2.      Demokratis
Kedudukan antara orang tua dan anak sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak. Anak diberi kebebasan yang bgertanggung jawab, artinya apa yang dilakukan oleh anak harus di bawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral. Orang tua dan anak tidak dapat berbuat semena-mena. Anak diberi kepercayaan dan dilatih untuk mempertanggung jawabkan segala tindakannya. Akibat positif dari pola asuh ini, anak akan menjadi seorang individu yang mempercayai orang lain, bertanggung jawab atas segala tindakannya, tidak munafik, jujur. Namun akibat negatifnya, anak akan cenderung merongrong kewibawaan otoritas orang tua, kalau segala sesuatu harus dipertimbangkan antara anak-orang tua.
Pola asuh demokratis  juga akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal yang baru. Dan kooperatif terhadap orang lain. Banyak anak yang dibesarkan dengan cara otoriter menunjukkan tanda-tanda masalah psikologi seperti depresi, sering merasa takut, dan pada kasus terberat keinginan nekat seperti bunuh diri karena stres.

3.      Permisif
Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsif, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang matang secara sosial dan kurang percaya diri. Ada kelebihan dan kekurangan yang dapat kita ambil dari pola asuh permisif ini, yaitu:
Kelebihan
Anak yang dibesarkan dengan kultur permisif, tumbuh dengan kemampuan berpikir secara kreatif dan bisa membuat banyak inovasi. Kebebasan untuk meraih apa yang mereka inginkan membuatnya bisa berpikir out of the box. Inilah budaya yang pada akhirnya membentuk Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan Steve Jobs.
Pola asuh permisif menghasilkan sikap yang cenderung lebih tegas dan agresif karena mereka tumbuh bukan sebagai pengikut yang hanya menuruti jalan yang dibuat orang lain. Melainkan, mereka tumbuh sebagai master dari masa depannya.
Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuk ini umumnya lebih gembira dan potensi terkena isu psikologisnya lebih kecil.
Kekurangan
Anak yang tak terbiasa ditekan oleh orangtua untuk melakukan suatu hal umumnya tumbuh sebagai sosok yang cukup puas dan tak berambisi tinggi.
Sejak kecil terbiasa untuk dimanja atau diberi kebebasan, dikhawatirkan ia mudah putus asa ketika tumbuh besar. Ketika ia harus bekerja keras untuk bertahan, ia bisa saja memilih jalan lain yang lebih mudah.[11]

4.      Laissez faire ( Penelantar )
Pola asuh Laissez faire atau penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem (harga diri) yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman. Pola asuh seperti ini juga akanmenghasilkan karakteristik anak-anak yang agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.

E.     FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLA ASUH
Setiap orang mempunyai sejarah sendiri – sendiri dan latar belakang yang seringkali sangat jauh berbeda. Perbedaan ini sangat memungkinkan terjadinya pola asuh yang berbeda terhadap anak. Menurut Maccoby & Mc loby ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua yaitu:
·                     Sosial ekonomi
·                     Lingkungan sosial berkaitan dengan pola hubungan sosial atau pergaulan yang dibentuk oleh orang tua maupun anak dengan lingkungan sekitarnya. Anak yang sosial ekonaminya rendah cenderung tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau bahkan tidak pernah mengenal bangku pendidikan sama sekali karena terkendala oleh status ekonomi.
·                     Pendidikan: Pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Latar belakang pendidikan orang tua dapat mempengaruhi pola pikir orang tua baik formal maupun non formal kemudian juga berpengaruh pada aspirasi atau harapan orang tua kepada anaknya.
·                     Nilai-nilai agama yang dianut orang tua: Nilai – nilai agama juga menjadi salah satu hal yang penting yang ditanamkan orang tua pada anak dalam pengasuhan yang mereka lakukan sehingga lembaga keagamaan juga turut berperan didalamnya.
·                     Kepribadian: Dalam mengasuh anak orang tua bukan hanya mampu mengkomunikasikan fakta, gagasan dan pengetahuan saja, melainkan membantu menumbuhkembangkan kepribadian anak (Riyanto, 2002). Pendapat tersebut merujuk pada teori Humanistik yang menitikberatkan pendidikan bertumpu pada peserta didik, artinya anak perlu mendapat perhatian dalam membangun sistem pendidikan. Apabila anak telah menunjukkan gejala-gejala yang kurang baik, berarti mereka sudah tidak menunjukkan niat belajar yang sesungguhnya. Kalau gejala ini dibiarkan terus akan menjadi masalah di dalam mencapai keberhasilan belajarnya.

·                     Jumlah anak: Jumlah anak yang dimiliki keluarga akan mempengaruhi pola asuh yang diterapkan orang tua. Semakin banyak jumlah anak dalam keluarga, maka ada kecenderungan bahwa orang tua tidak begitu menerapkan pola pengasuhan secara maksimal pada anak karena perhatian dan waktunya terbagi antara anak yang satu dengan anak yang lainnya.

Thursday, January 26, 2017

Lagu Anak TK


CARA BINATANG BERJALAN
Mari kawan kita perhatikan
Berbagai cara binatang berjalan
Ada yang cepat, ada yang lambat
Mari kita peragakan
Begini gajah berjalan 2x
Beginilah gajah berjalan

NAIK PESAWAT
Kalo naik pesawat terbang tinggi…terbang tinggi..
Kalo naik perahu…terobang ambing…
Kalo naik bis kota,,,, belok kanan belok kiri..
Kalo naik kereta api…jes…jess..atau tut…tut…tutt…

IKAN-IKAN HIDUP DI AIR
Ikan…ikan hidup di air
Timbul tenggelam di laut luas
Aku ingin seperti ikan
Berenang…renang kian kemari (2x)


PERGI KE LAUT

Dihari Minggu ku pergi ke laut
Memancing ikan yang gendut-gendut
Sampai di rumah adik berebut
Akhirnya kudapat buntut


API
Aku rasakan hangat aku rasakan panas
Ada cahaya terang itu cahaya api
Api warnanya kuning, api warnanya merah ada juga yang biru
Itu warna api
Api kecil…sahabat kita
Api besar musuh kita
Jangan coba-coba bermain dengan api

TENTANG JARI
mana jempol….mana jempol
disini….disini….
halo apa kabar
baik-baik saja
sembunyi…sembunyi…


PLATUK
Dihutan ada rumah
Didiami pelatuk
Datang seekor kelinci
Mengetuk pintu…tok..tok..tok

Platuk platuk tolonglah
Aku mau ditembak…dor

Kelinci kelinci masuklah
Ulurkan tanganmu
Ulurkan tanganmu


CIPTAAN ALLAH
Aku berjalan ikan berenang
Ular berayap burung terbang
Hujan turun bunga berkembang
Allah jadikan karena sayang…2x

BEBEK WEK-WEK
Lima anak bebek pergi berenang
Naik gunung lalu menghilang
Induk bebek memanggil wek..wek..
Hilang satu tinggallah empat…

BINATANG HUTAN
Ayo kawan kita pergi kehutan
Di hutan banyak binatangnya
Binatang apa namanya
Binatang gajah, binatang gajah namanya
Beginilah jalannya, beginilah jalannya.
MOBILKU
Dodoli dodoli prĂȘt
Suara mobilku
Rodanya dari karet
Warnanya biru

Dodoli dodoli prĂȘt
Nyetir sendiri
Disetop pak polisi
Ku harus b’renti


BANGUN PAGI
Satu dua, tiga empat
Lima enam, tujuh delapan
Siapa rajin ke sekolah
Cari ilmu sampai dapat
Sungguh senang
Amat senang
Bangun pagi-pagi
Sungguh senang

POHON JAMBU
Didepan rumahku ada pohon jambu
Buahnya lebat rasanya manis
Ingin aku ambil tapi tak bisa
Pohonnya tinggi dan
Karena aku masih kecil

BERMAIN LAGI
Hari ini main lagi
Bersama kita berkumpul bermain lagi
Hari ini main lagi
Bersama kita berkumpul bermain lagi…2x

Ceria gembira
Bersama kita berkumpul bermain lagi
Ceria gembira
Bersama kita berkumpul bermain lagi…2x

HUJAN RINTIK-RINTIK
Hujan rintik…rintik
Turun rintik…rintik
Di halaman di jalan
Seperti jamur yang tumbuh subur
Dihiasi payung warna-warni

JAGALAH
Matamu yang mungl jagalah (klip klop)
jangan sampai melihat yang salah (klip klop)
telingamu yang mungil jagalah (ting tong)
jangan sampai mendengar yang salah (ting tong)
tanganmu yang mungil jagalah (dug dug)
jangan sampai memegang yang salah (dug dug)
kakimu yang mungil jagalah (prok prok)
jangan sampai melangkah yang salah (prok prok)

PERAHU NELAYAN
Maju….maju perahu nelayan
Laju…laju ke laut luas
Lemparkan jalannya lemparkan kailmu
Tangkap ikan yang banyak


ANAK KATAK
Anak katak….anak katak
Senang ku melihatnya
Tak bertelinga…tak bertelinga dan ekorpun tiada
Di atas gunung, di bawah bukit melompat mencari makan
Di atas rumput di bawah rumput melompat berturut-turut
Teo tablung 4x


AKU PUNYA DUA MATA
Aku punya dua mata
Bisa ku tutup dan kubuka
Bila kututup gelap sekali
Bila ku buka terang sekali


AIUEO
AIU…AIU….AIUEO (2x)
A…Ayam bertelur (petok-petok)
I….Ikan berenang (blub…blub)
U…Ular melingkar (zzzzzzzzzzzz)
E…Ekor yang panjang (wow)
O…Otak yang cerdas (jempol)

BINATANG CIPTAAN ALLAH
Jerapah-jerapah lehernya panjang
Kulitnya belang-belang…ih lucu sekali
Jerapah-jerapah itu namanya
Jerapah-jerapah ciptaan Allah..

Jalannya lompat-lompat
Telinganya panjang
Kulitnya hitam putih…ih lucu sekali
Kelinci-kelinci itu namanya
Kelinci-kelinci ciptaan Allah

Jalannya menggal-menggol
Mulutnya panjang
Bulunya putih bersih…ih lucu sekali
Bebek wekwek – bebek wekwek itu namanya

Bebek wekwek – bebek wekwek ciptaan Allah

Feature (Side)

© 2013 Sekolah Pagi. All rights resevered.Thetechbook Designed by Templateism